Kamis, 26 Mei 2011

My All is in You (Part 4)

Kata-kata “Waeroba Manioso” dan surat itu terus berada di dalam pikiranku dan aku sama sekali tidak bisa melupakan hal itu. Saat mengajar, aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi di dalam kelas dan para mahasiswa melihatku dengan aneh. Aku harus segera memecahkan masalah ini!


Ding, Dong, Deng, Dong... bel telah berbunyi, kelas sudah selesai dan aku tidak melihat Reiki datang ke kelasku selama beberapa hari ini. Apakah dia sakit? Atau dia pindah ke universitas lain? Atau apa alasan yang tepat? Kenapa dia tidak telepon ke universitas dan bilang alasan dia tidak datang. Haruskah aku minta alamatnya dan mengunjunginya? Tetapi bukankah hal itu... Bruk!


Itai~” (sakit~) kenapa aku selalu menabrak orang di koridor?! “Rose-chan, kamu tidak apa-apa? Maaf, aku tidak nampak kamu tadi, karena keasyikan baca buku sambil berjalan,” suara yang tidak asing di telingaku. “Aa... Aoi-san rupanya.. tidak apa-apa, aku juga salah, karena telah melamun,” Aoi membantuku untuk bangkit berdiri. “Wah! Hal yang jarang terjadi... hal apa yang membuatmu melamun sampai segitunya?” Aoi terlihat sangat kaget, tetapi kata-kata yang keluar dari mulutku, “Kopratiyo mexamiosa, ilaiono mresicano...” aku langsung menutup mulutku dan shock dengan apa yang kuucapkan tadi. Wajah Aoi-san sangat terlihat pucat, seakan-akan dia mengerti dengan apa yang kuucapkan. Hal berikutnya yang terjadi, dia pingsan tepat di depanku.


Setelah Aoi-san dibawa ke rumah sakit, aku langsung pulang ke rumah dan merenungkan apa saja yang telah terjadi hari ini. Kenapa aku bisa mengucapkan bahasa aneh tersebut dan mungkin artinya adalah “Mind your own business, just sleep in peace...” bukankah itu berarti dia akan tidur sampai selamanya? Aku berharap artinya salah dan Aoi-san tetap hidup!


Saat perjalananku pulang ke rumah, langkah demi langkah terasa berat, pikiranku dipenuhi dengan mantra-mantra aneh tersebut dan memikirkan tentang surat itu juga.


Di depan pintu rumahku ada seseorang dan sepertunya itu Reiki, ngapain dia di depan rumahku? Apakah ada masalah? Sebaiknya... aku tanyakan saja kenapa dia tidak masuk kuliah hari ini...


Sensei! Bolehkah aku masuk ke rumahmu? Udara di luar sangat dingin, aku hampir membeku disini,” kata Reiki. “Douzo... kamu duduk saja dulu di ruang tamu itu, aku akan membuat minuman hangat untukmu,” aku langsung ke dapur tanpa melihatnya lagi.


~beberapa saat kemudian~


Silahkan minum... Kalau aku boleh tahu, kamu ada urusan apa datang ke rumahku?” aku berusaha menghindari tatapannya.

Sensei, kamu masih belum berubah... Tujuanku kesini, aku ingin meminta bantuan darimu.”

Bantuan apa? Aku akan berusaha untuk membantumu.”

Reiki tersenyum, lalu mengatakan, “Aku ingin tinggal di rumahmu untuk sementara waktu, sebab tempat yang aku tinggali sekarang sedang direnovasi. Jadi...”

Chotto matte! Berarti kamu ingin tinggal disini? Buat berapa lama? Kenapa kamu tidak mencari tempat lain? Kenapa harus di rumahku?”

Kalau Sensei tidak bisa, tidak apa-apa. Aku akan coba cari tempat lain, semoga uangku cukup. Kalau begitu, aku permisi dulu.” Reiki beranjak dari tempat duduknya.

Secara spontan, aku langsung memegang tangannya, “Aku tidak apa-apa, kamu boleh tinggal disini, sampai renovasinya selesai. Tetapi, kamu harus...”

Reiki memelukku (?!), “Arigatou, Sensei... Slepora mer hustyo myopta...

Dan seperti hari itu, aku langsung tertidur pulas.

Kamis, 10 Maret 2011

My All is In You (Part 3)

Keesokan harinya, kepalaku masih terasa pening dan sakit, mungkin karena aku kurang tidur akhir-akhir ini. Dan sejak kapan aku ada di kamarku sendiri? Bukannya ini pakaian kerjaku yang kemarin? Siapa yang membawaku pulang?

Tiba-tiba, gambar-gambar mulai bermunculan di dalam pikiranku. Gambar seorang gadis yang sedang menangis, sebab anak laki-laki tersebut harus pindah ke kota lain. Orang tua gadis tersebut hanya berusaha untuk menenangkannya dan gambar itu pun hilang.


Wajahku terasa basah, aku memegang pipiku, ternyata aku menangis. Tetapi, apa hubungannya dengan gambar-gambar yang tadi? Kenapa sepertinya aku adalah seorang gadis tersebut? Aku sangat ingin bertemu dengan orang tuaku sekarang. Sebelum pergi ke rumah orang tuaku, aku mengganti pakaianku dengan pakaian yang agak formal.


Sepanjang perjalanan ke rumah orang tuaku, pikiranku terus menerus dipenuhi dengan gambar tersebut... Terdengar sayup-sayup suara yang memanggil namaku (?), '...Lacrimosa Rose...” Rose adalah namaku... Tetapi, siapa Lacrimosa Rose? Kenapa sepertinya aku pernah mendengarnya?


Ciiiiiiiiiiiiiiiittttt...” aku menginjak rem secara mendadak, sesaat tadi aku melihat ada orang yang sedang menyebrang. Aku harus turun, untuk melihat, apakah orang itu baik-baik saja? Pas turun dari mobil, aku mencari-cari orang tersebut, tetapi tidak terlihat satu orang pun di jalan ini. Dan kenapa jalanan ini terlihat sangat sepi? Kabut sedikit demi sedikit semakin tebal.


Why the fog is getting thicker?? Are there anyone at here? I can't see you very well!” kemudian ada bayangan lagi yang bergerak dan mengucapkan, “Irequima Lacrimosa Rose... Irequima...” Kenapa badanku bergerak sendiri, aku tidak bisa mengontrol tubuhku!


Siapa kamu? Hentikan semua ini sekarang juga!” tubuhku kembali normal dan kabut semakin tipis. “Ien no mane, Lisuto ploirasa.... Megane graisuto!” bayangan tersebut tiba-tiba menghilang dan ada sebuah kertas yang jatuh tepat di tanganku.


Isi yang ada di kertas tersebut:

Lacrimosa Rose, we have been waiting for you for 10 years. We know that your memory has not recovered yet, but there will be someone, who will lead you to us and make you remember everything. Our family can't survive without your command and lead. Your (real) parents are also missed you very much and your fiance too. We hope you'll come to us soon.

From Your Secretary,

Korosu Spear”


Apa maksud surat ini? Kenapa mereka menyebutkan orang tuaku yang asli dan tunanganku? Sejak kapan aku mempunyai tunangan?? Terdengar lagi sayup sayup suara itu, “Waeroba Manioso...” entah kenapa aku mengerti maksud dari kata-kata tersebut, mungkin artinya adalah “I'm waiting for you...” Suara orang tersebut terdengar sangat sedih, apakah dia tunanganku?

Selasa, 08 Maret 2011

My All is In You (part 2)

3 hari setelah pembicaraan itu, Reiki terlihat seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Sedangkan aku... aku tidak bisa melupakan hal tersebut, pembicaraan itu terus teringat di dalam pikiranku setiap hari. Apakah aku harus... “Aduh! Rose-chan~ kalau jalan hati-hati. Lihat buku yang kubawa jatuh semua...” kata Aoi-san sambil mengutip buku yang jatuh. “Gomennasai, Aoi-san. Mari aku bantu membawakan bukumu,” lalu aku dan dia berjalan sampai ke kantornya.

Rose-chan, taruh saja bukunya di atas meja itu dan duduklah sebentar. Aku akan membuat minuman untukmu,” aku pun mengikuti sarannya. Beberapa menit kemudian, minuman pun sudah dibuat... masalahnya, atmosfer di dalam ruangan ini sangatlah tidak enak. Aku merasa aneh berada di kantornya dan lebih anehnya lagi, I saw him smirk! 0.0

Untuk menghilangkan situasi aneh tersebut, aku minum beberapa teguk... tak lama kemudian, kepalaku terasa pusing dan mataku hampir menutup. Oh God, what will happen again?!

Aoi-san, maaf... sepertinya aku harus segera pulang. Aku merasa tidak enak badan,” aku langsung berdiri, Aoi-san langsung menarikku ke dalam pelukannya. “Gommenne, Rose-chan... Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi dan maafkanlah aku...” setelah itu, aku tidak sadar lagi dan tidak tahu apa yang akan terjadi padaku nantinya.

Beberapa jam kemudian...

Aku membuka mataku perlahan-lahan, kepalaku masih terasa pusing dan dimana aku? Ruangan ini terlihat sangat mewah dan barangnya mahal-mahal. But, why am I here? And whose room is this? Should I run away? Karena aku sibuk dengan pikiranku sendiri, aku tidak sadar ada yang masuk ke ruangan ini.

Konnichiwa, Rose-sensei~...” suara itu terdengar tidak asing bagiku, aku langsung menoleh ke kiri dan melihat orang itu. “Reiki-kun? Apa yang sedang kamu lakukan disini? Dan kenapa aku bisa disini?” aku berusaha terlihat tenang, sedangkan Reiki hanya tersenyum dan berjalan semakin mendekatiku.

Aku sarankan kamu stop sampai disana dan jangan berjalan lebih dekat denganku!” aku menegaskan suaraku, walaupun aku takut setengah mati. Anehnya, kali ini Reiki menurut dan berhenti, lalu berkata, “Rose, ah... maksudku, Lacrimosa Rose... Apakah kamu sudah lupa denganku?” saat dia mengucapkan nama itu, aku tidak merasa asing dan sepertinya aku sangat mengenal dengan nama tersebut.

Reiki-ku...” tiba-tiba, Reiki langsung memelukku dan mengucapkan, “Sriekuon Lacrimosa Iorasaio...” Dan muncullah beberapa gambar di dalam pikiranku, aku melihat ada seorang gadis yang bahagia bersama dengan orang tuanya, dan ada seorang anak laki-laki di sampingnya. Mereka terlihat seperti teman dekat (?)... Gambar tersebut hilang dan aku tersadar kembali.

Rose, sekarang hanya itu yang perlu kamu lihat. Walaupun kamu tidak ingat tentang hal tersebut... aku berharap, kamu bisa ingat tentang aku nantinya,” sebelum aku bicara, dia mengucapkan kata-kata aneh lagi, “Slepora mer hustyo myopta...” aku mulai mengantuk dan tertidur pulas.

Rose-chan, maafkan aku... aku tidak bisa memberitahu tentang diriku sebenarnya sekarang. Tidurlah yang nyenyak dan kamu akan melupakan tentang kejadian tadi, kecuali gambar-gambar tersebut,” Rei mencium pipi Rose dan keluar dari kamar tersebut.

Selasa, 01 Maret 2011

My All is In You

CHAPTER 1

“A moment when we are together
Aku sangat berharap waktu di dunia ini bisa berhenti sesaat…
*Why?*
Karena aku masih ingin berada di dekatmu lebih lama…
*Is that the only reason?*
Aku ingin memilikimu untuk diriku sendiri…
Aku tidak mau, melihat kamu dimiliki oleh DIA!!
Oh Tuhan! Kenapa hal ini terjadi di dalam hidupku???”

Pagi ini, aku datang ke tempat kuliah seperti biasa, mengajar sekumpulan murid-murid yang tidak tahu aturan, tata krama dan sebagainya… “Ohayou gozaimasu, Rose-chan. Aku sangat terkejut sekaligus takjub, karena kamu masih bisa bertahan untuk mengajar disini,” kata Aoi-sama. “Oh! Ne, ohayou gozaimasu, Aoi-sama. Takjub? Aku merasa biasa-biasa saja, sebab, aku sudah biasa menghadapi murid-murid seperti ini,” aku berusaha untuk kabur secepat mungkin darinya. “Rose-chan!! Sudah berapa kali aku katakan kepadamu, jangan panggil aku dengan sebutan “sama”! Tetapi, sudahlah… see you later…” Aoi-sama pun pergi begitu saja.

Aoi adalah nama panggilan dari Aoi Yokizuki, umurnya 22 tahun, dialah guru yang paling menyebalkan dari semua guru-guru yang ada di sini. Aku juga salah seorang guru di universitas ini, jurusan yang aku ajarkan adalah Sastra Jepang, sama dengan Aoi-sama. Tetapi, aku masih lebih muda daripada Aoi-sama, aku baru berumur 20 tahun. Banyak orang yang tidak percaya, bahwa aku seorang guru. Aku pernah ditanya oleh salah seorang sekuriti mall, dia bingung mengapa aku berjalan-jalan di mall, saat jam sekolah. Ini sering terjadi, karena aku memiliki wajah awet muda… Impianku sejak kecil adalah menjadi seorang model, tetapi entah kenapa, aku mengambil jurusan sastra jepang.

D dalam kelas….

“Ohayou gozaimasu, mina-san. O genki desuka? Kyou…” suara mahasiswa dan mahasiswi disini tidak bisa diam, Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan, supaya mereka mau mendengarkan gurunya disini. “Anata wa Rose-sensei desuka?” Tanya seseorang yang belum pernah kulihat. “Hai, doushite? Err… Anata wa dare desuka?” aku bertanya kembali dengan nada bingung. “watashi wa Reiki, Ichinose Reiki desu, aku mahasiswa baru disini, mohon bantuanmu, sensei…” Tiba-tiba semua mahasiswa dan mahasiswi di kelas ini terdiam dan para mahasiswi terlihat sangat senang karena kedatangan mahasiswa baru.

“Silahkan duduk di manapun yang kamu mau, pelajaran akan segera dimulai,” Rei langsung menempati kursi terdepan dan memakai kacamatanya. “Ehem!” terdengar suara batuk dari seorang mahasiswa dan itulah yang membuatku tersadar dari alam mimpiku. “Okay, let start the lesson…Baca halaman 110 dan kerjakan pertanyaannya di halaman selanjutnya. Yang sudah selesai, langsung dikumpul, dan kalau ada yang tidak ngerti, langsung tanya saja. Dimulai dari sekarang!” baru kali ini aku melihat para muridku bekerja sangat serius, apakah mungkin karena adanya Reiki di sini? Tetapi, aku hanya berharap, semoga mereka akan tetap serius setiap hari.

Waktu terasa berjalan sangat cepat, aku merasa baru mengajar dalam 15 menit, tetapi bel sudah berbunyi. Para mahasiswa dan mahasiswi sudah keluar dari ruangan, tetapi hanya Reiki yang masih disini. “Rei-kun, kenapa kamu masih disini? Bel sudah berbunyi loh…” tanyaku kepadanya. Dia tersenyum, lalu berjalan ke arahku dan berhenti dengan jarak tidak lebih dari 5 cm dariku.

Spontan aku langsung berjalan mundur, sampai punggungku mengenai pintu ruangan. “Rei-kun! Tolong berhenti dan berdiri agak jauh dariku, apabila kamu hanya mau bicara, aku sarankan sekarang bicara!” tegasku. “Sensei, aku hanya ingin mengatakan kepadamu, aku adalah seseorang yang akan menjadi bagian dalam hidupmu. Kamu akan lebih sering melihatku nantinya, bukan hanya di dalam sekolah. Ima, matta~” Reiki langsung keluar dan meninggalkan aku seorang diri dalam kebingungan.

Oh God! What will happen to me later on? Dan apa yang dimaksud dengan omongan Reiki tadi? 0.0

Senin, 31 Januari 2011

Epilogue

Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4

“Epilogue ini akan menceritakan kenapa Kei bisa suka dengan Hikaru dan semua akan ditulis berdasarkan sudut pandang Kei...”

Pada awalnya, aku bingung dengan semua yang dilakukan Hikaru sebagai calon sekretarisku, sebab dia orangnya sedikit aneh, tidak begitu bersahabat dengan staff-staff lainnya, dan aku tidak pernah melihat ada satu orang pun yang menjadi sahabatnya di kantor. Terkadang dia bekerja sampai larut malam, hanya untuk mengejar targetnya.

Beberapa kali, aku memanggilnya ke kantorku, hanya untuk melihat apakah ada perkembangan dengan desainnya atau tidak. Karena setiap hari, aku hanya fokus dengan pekerjaanku, orangtuaku mulai khawatir, mereka takut aku tidak bisa mendapatkan jodoh dan memberikan cucu untuk mereka. Sebenarnya, aku terus mengucapkan bahwa aku sudah mempunyai pacar dan itu adalah calon istriku, cumanya, aku tidak pernah mengenalkannya kepada mereka... Sebab, aku masih jomblo!!

Tiba-tiba, muncul satu ide di kepalaku, bagaimana kalau aku menyuruh Hikaru menjadi calon tunanganku, sebab dialah yang paling dekat denganku sekarang. Sewaktu aku membawanya ke rumah orang tuaku, aku sadar, bahwa konsekuensinya nanti akan berakibat fatal, kalau semuanya kebongkar.

Saat aku mengantar Hikaru pulang, dia menangis tanpa disadarinya. Di saat itulah, aku menyadari, bahwa aku tidak sanggup melihatnya menangis, hatiku terasa sakit, aku ingin membuatnya bahagia, tetap tertawa. Aku langsung memeluknya dan hanya beberapa kata yang ada di dalam pikiranku, ‘Aku telah jatuh cinta kepadanya...’

Beberapa bulan telah lewat tanpa kusadari, perasaanku kepadanya masih kupendam di dalam hatiku, sebab aku tidak ingin menhancuri hubungan yang ada sekarang dan aku sangat takut apabila dia menolakku nantinya. Orang tuaku sudah mulai curiga, mereka merasakan ada hal yang tidak beres dan langsung menemui Hikaru tanpa sepengetahuanku, untungnya Hikaru bisa menyelesaikannya dengan baik.

Aku langsung mengambil satu langkah yang paling besar dalam hidupku, aku pergi membeli cincin untuk melamarnya. Aku hampir kehabisan ide, kapan harus melamarnya, lalu aku teringat akan event yang akan dibuat oleh perusahaanku. Aku pun mengatur semua rencana tersebut dengan manager dan para staff yang akan turut serta melakukan event ini.

Datanglah hari yang kutunggu-tunggu, aku muncul di depannya, untuk menjadi pasangan modelnya, saat sampai di depan panggung, hatiku berdegup semakin kencang. Tetapi, aku sudah sampai disini, aku tidak akan menyerah. Lalu, aku memberikan aba-aba ke manager yang menunggu di sisi panggung.

Saat lampu diredupkan, aku langsung bertekuk lutut di depannya dan mengeluarkan kotak cincin tersebut. Dan saat itulah aku melamarnya, para hadirin bersorak kepada Hikaru untuk menerimaku. Aku memandang tepat pada matanya dan hanya tersenyum menunggu jawabannya.

3 menit kemudian, dia pun mengatakan jawabannya dan menerimaku. Pada saat itu, aku langsung memeluknya dan terus mengatakan terima kasih kepadanya. Tak lama setelah kejadian itu, kami pun menikah dan menjalani perusahaan ini bersama-sama.

Sabtu, 29 Januari 2011

Wedding Dress (Bab 6)

Hari demi hari berlalu...

Tidak terasa 20 hari telah lewat...


“Kei-san, gaunnya sudah selesai. Apakah kamu ingin melihatnya?” tanyaku sambil memperlihatkan gaunnya kepada dia. Dia hanya mengangguk dan berkata, “I want you to wear it on the broadway tomorrow and no arguement!” Aku hanya bisa menelan ludahku sendiri dan langsung berjalan keluar dari ruangan Kei.

Aku berjalan ke ruang ganti, untuk mencoba gaun ini dan mencoba memakai dandanan yang kupirkan. Setengah jam kemudian, aku berdiri di depan cermin dan mengatakan, “Apakah ini aku dengan gaun impianku?” mataku terlihat berkaca-kaca dan aku hampir tidak bisa berdiri karena terkejut.


Tiba-tiba....


“Ehem! Maukah kamu menjadi pendampingku?” spontan aku langsung menengok ke belakang dan menemukan Kei di belakangku. “Kei-san?! Hahaha.... kamu selalu saja bercanda di saat-saat seperti ini...” aku tertawa seperti orang idiot dan berusaha berjalan melewati Kei. Tetapi, dia memegang lenganku dan langsung memelukku. “Tawaran menjadi pendampingku tadi... bukanlah sebuah lelucon, aku benar-benar serius dengan ucapanku tadi. Sebab, aku telah jatuh cinta kepadamu...”


Aku terdiam, terkejut dengan ucapannya dan spontan aku langsung mendorongnya dengan pelan. “Kei-san, maafkan aku... aku...” Kei langsung memotongnya, “Kamu tidak usah menjawabnya sekarang, berikan jawabannya padaku saat broadway selesai. Do you understand?” dia tersenyum kepadaku. Setelah itu, dia pergi dan aku pergi ke ruangan latihan untuk broadway.


*4 jam berikutnya...*


Sepertinya kakiku terkilir saat latihan tadi, ini semua gara-gara high heels yang kupakai. Coba pikirkan, siapa yang tidak akan terkilir kakinya, kalau high heels ini berukuran 12 senti! Tetapi, aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan, supaya sakitnya hilang sebelum besok, sebab aku tidak ingin merusak acara besok. Tanpa diketahui oleh Hikaru, seseorang daritadi mengawasinya selama latihan berlangsung dan dia juga mengetahui bahwa kakinya terkilir. Tetapi... orang itu hanya pergi bergitu saja.


Keesokan harinya...


“Hikaru! Akhirnya kamu datang juga, kamu harus cepat-cepat ganti pakaianmu dan mengurus rambut dan make up! Sebab, waktu kita tidak banyak... Oh! Dan satu hal lagi, nanti model pria yang mendampingi kamu akan diganti dengan orang lain, sebab dia terkena demam kemarin,” celoteh Young, dia itu stylist model-model yang terkenal dan terkenal sangatlah galak. Aku langsung mengikuti semua perintahnya, sebab aku tidak mau diomelin dan siapa yang akan menjadi pasanganku nantinya? Hmm.. I’m wondering... aren’t you?


***

Good evening, ladies and gentleman! Welcome to Quasimodo broadway... SHOW! I don’t want to waste any more time, so let’s the show begin! And there are 50 models, who will show all of us the future wedding dresses.. So, give a big applause for them!” setelah mendengar kata MC tersebut, aku mulai merasa gugup, perutku terasa mual dan tanganku menjadi dingin. Tetapi, aku harus mempunyai kepercayaan diri untuk menyelesaikan show ini!


‘Ayo Hikaru! Kamu pasti bisa melakukan hal ini dengan baik! Semangat!!!’ kataku pada diriku sendiri.

Tiba-tiba, ada tangan yang menyentuh bahuku, aku pun menoleh ke belakang, ternyata itu Kei dan dia memakai tuxedo berwarna putih. “Hikaru, will you accept this rose flowers and let me become your partner for the broadway today?” Aku terkejut dan tidak tahu mau menjawab apa kepadanya.


“Hikaru? Hikaru? Apakah kamu mendengarkan apa yang baru kubicarakan?” aku hanya mengangguk, “lalu apa jawabanmu?” aku menundukkan kepalaku, karena aku merasa malu dan senang. “Tell me now, we only have 3 minutes left, before our turn...” dia berbisik kepadaku. “Thank you for the roses and let’s make this broadway successful!” aku tersenyum kepadanya.


Saat berada di ujung panggung, tiba-tiba semua lampu dimatikan, kecuali spotlight yang sedang menerangi kami berdua. Yang anehnya lagi, semua model tidak tampak terkejut dan para hadirin memperlihatkan antusiasnya. Apakah hanya aku yang tidak tahu apa-apa? Lalu, aku mendengar suara Kei, dia memakai mik dan mengatakan, “Hikaru Youmi...” dia berlutut di depanku dan mengeluarkan sebuah kotak dan membukanya.


‘OH MY GOD! Itu cincin!! Apakah dia sudah merencanakan hal ini?’ aku merasa bingung sekarang.. ‘God Help me!’


Will you marry me? And love me and stay with me until the death tear us apart?” aku melihat tepat di matanya dan dia benar-benar serius mengucapkannya. “I... I don’t know what to answer... I feel...” sebelum aku selesai mengucapkannya, para hadirin, model-model dan MC terus mendukung Kei dan terus mengucapkan, “Accept Him!!”


Come on, Hikaru. You don’t need to feel confused, all you need to do is answer yes or no. It’s all up to you,” dia tersenyum kepadaku. “My answer is...” aku merasa semua orang berhenti bernafas untuk sesaat, karena penasaran dengan jawabanku. And now I know, what is my answer, Yes, I do. I want to marry you, Kei...” semua hadirin langsung bertepuk tangan dan para model dan MC datang untuk memberi selamat kepadaku dan Kei.


The End


“Marry with the people whom you love, it is every women dreams in this world. And when you do, you will feel happy, whenever and whatever you do with him... You will feel precious, protected, love, care and amazing in your entire life. And never try to change yourself, because of what people said about you. Remember, You are the one who will decide what you do later in your life. You might ask some people, what is nice when you’re falling in love? And if you ever felt broken heart or maybe you scared of it, just give it a try, even though it hurts you later, but it won’t last long. Because, God already planned for you, who will be your soul mate later... He will love you with all his heart and he won’t try to hurt you, because he doesn’t want to see you cry. And the most important things are he say to you those 3 words: I love you...

Jumat, 03 Desember 2010

Wedding Dress (Part 5)

Beberapa bulan kemudian…

Sekarang aku sudah naik pangkat menjadi asisten pribadinya Kei, tetapi hampir semua karyawan di perusahaan ini tidak setuju. Apakah aku memang tidak pantas mendapatkan posisi ini? Yang terpenting adalah, aku mendapatkan posisi ini dengan cara yang jujur dan usahaku sendiri!

Hari ini, orangtua Kei datang menemuiku secara tiba-tiba di apartemenku, untunglah aku pernah belajar akting, jadi aku langsung berperan sebagai tunangan Kei. Mereka bertanya kepadaku, kapan aku akan menikah dengannya dan kapan mereka bisa bertemu dengan orangtuaku… aku terpaksa berbohong dan mengatakan kepada mereka, bahwa orangtuaku sedang berlibur ke luar negeri dan balik kembali ke Tokyo.

Setelah mereka pulang, aku langsung menelepon Kei untuk memberitahu hal ini. Satu hal yang aku yakini dia panik dan kaget, sebab tak mengira orang tuanya akan melakukan hal ini. Tetapi aku menyuruhnya untuk tenang, sebab kita masih ada waktu untuk memikirkan rencana berikutnya sampai bulan depan.

Setelah itu... aku kembali ke meja kerjaku, untuk membikin 5 desain baju pengantin dengan warna yang berbeda-beda. Setiap aku mau menggambarnya, hasilnya selalu tidak pas dengan apa yang kuimajinasikan. Apakah kalian ingin tahu baju pengantin seperti apa yang ingin kupakai nantinya?

Baju pengantin yang sering disebut dengan “mermaid dress”, gaun yang menutupi sampai jari kaki, tidak berlengan ataupun bertali, dan ditambah pita di bagian pinggang sebagai aksesoris. Rambut diurai dan dibuat ikal, berwarna coklat tua, supaya pas dengan warna putih dress tersebut dan ditambah mahkota tiara kecil. Make up tidak boleh tebal, jadi harus terlihat natural, sepatu yang dipakai sepatu balet atau stilleto shoe. Bagi yang memakai dress ini, biasanya orang yang agak tinggi, jarang orang yang agak pendek memakainya.

Dalam 8 hari, aku berhasil menyiapkan desainku dan kuserahkan kepada Kei, dia sangat suka dengan desain mermaid dressku dan menyuruh penjahit untuk menjahitnya dalam waktu 20 hari, sebab akhir bulan ini akan ada pemotretan untuk baju pengantin. Aku sangat penasaran dengan model yang akan memakainya dan sekarang masalah terakhirku adalah orang tuanya Kei...

WHAT SHOULD I DO?